Rabu, 25 Desember 2013

Ketika Masakan Indonesia Jadi Haute Cuisine di Amerika



Polling CNN telah membuktikan bahwa rendang nomor 1 di antara 50 Masakan Terlezat di Dunia. Para chef Amerika ini mengangkat 30 ikon kuliner Indonesia lainnya ke tingkat haute cuisine.

Menikmati masakan Indonesia di restoran biasa pada galibnya dijejal dan ditumpuk dalam satu piring, suatu teknik penyajian yang secara umum bisa membuyarkan selera. Apalagi bagi kalangan tertentu penyajian seperti itu tentu kurang representatif.

Beberapa chef Amerika menyulap 30 masakan Indonesia menjadi grande cuisine atau haute cuisine, memasak dengan proses, seni penyajian dan citarasa tinggi, terbagi dalam appetizer (hidangan pembuka), main course (hidangan utama) dan dessert (hidangan penutup).

Mereka adalah Nathan Guertin dari Boston Massachusetts, Robin Butterhof dari Washington D.C, Michelle Youngs dari Schenectady, New York, dan Titik Suprapti dari California, semuanya para finalis Indonesian Cuisine Cooking Contest (ICCC), yang diselenggarakan oleh KBRI Washington, D.C. bekerjasama dengan Culinary School Department-Stratford University di Virginia.

"Sajian menawan dengan citarasa tinggi hasil transformasi para jurumasak Amerika itu telah mengundang decak kagum para juri dan penonton," Heru H. Subolo, Kepala Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Washington mengenang kompetisi pada 21-22 November 2013 lalu.

Dari tangan mereka itu tersaji masakan Indonesia dengan penampilan lebih representatif tetapi rasanya tetap otentik, antara lain Burger Sate Maranggi, Short Ribs dengan kombinasi Saus Rendang, beragam transformasi dari kolak pisang, klapertart, dan lain sebagainya.

"Kompetisi ini dimaksudkan untuk mengenalkan masakan Indonesia di kalangan ahli makanan, jurumasak dan masyarakat umum di AS dengan harapan makanan Indonesia dapat lebih dikenal dan diadopsi di AS," jelas Dubes RI Dr. Dino Patti Djalal pada sambutan penutupan, sebelum diplomat karir ini resmi mengakhiri tugasnya di Negeri Paman Sam itu.
Mengutip polling CNN, Dubes menyampaikan bahwa meskipun rendang merupakan makanan paling enak di dunia, nasi goreng di urutan kedua, serta sate Madura di urutan ke-19, namun makanan Indonesia belum dikenal luas di AS.

Di samping itu, lanjut Dubes, fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa restoran Indonesia juga belum banyak ditemukan di AS, padahal Amerika merupakan surga tempat masakan internasional, baik Barat maupun Asia.

"Kompetisi ini mengajak para siswa sekolah masak, para jurumasak, ahli makanan dan masyarakat umum untuk mengenal dan mendalami kuliner Indonesia, untuk selanjutnya dapat disesuaikan dengan citarasa setempat sehingga dapat lebih mudah diterima," demikian Dubes.

Kompetisi yang digelar dalam dua hari tersebut merupakan puncak acara dari kegiatan ICCC yang diluncurkan sejak April 2013 dan diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai negara bagian di AS.

Acara final berlangsung seru dan menegangkan karena peserta harus menyajikan masakan yang terdiri dari appetizer, main course dan dessert dalam waktu yang ditentukan dan juga harus memasak bahan dari keranjang misteri yang tidak diketahui sebelumnya.

Para juri terdiri dari Chef Yono dari Albany New York, Chef Andy dari Washington D.C., Chef Jordan Lichman dan Chef Ricardo Willis dari Startford University, serta Rosa Rai Djalal mewakili pecinta masakan Indonesia.

Keluar sebagai pemenang pada babak final ini adalah oleh Michele Youngs, seorang jurumasak pastry yang berdomisili di Schenectady, New York.

Michele selanjutnya akan melakukan perjalanan kuliner ke Indonesia sebagai hadiah utama kompetisi. Diharapkan kelak Michele dapat menjadi promotor masakan Indonesia di AS, khususnya di kalangan jurumasak dan siswa sekolah masak di AS.

​Pada penutupan acara ini, Presiden dan CEO Stratford University, Dr. Richard R. Shurtz II mengumumkan bahwa Stratford akan memberikan beasiswa bagi dua orang mahasiswa Indonesia yang ingin belajar dan mengambil bidang study culinary arts di Startford University.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar